//Coffee Love


<$BlogItemTitle$>
<$blogitembody$>
> <$BlogItemCommentCount$> Comment(s)

>Older Post | >Newer Post

Kamis, 16 Agustus 2012

Pembuktian~

Selamat pagi/siang/sore/malam
Saya persembahkan entri kedua
yang berjudul...


                                                                   Pembuktian~


     Waktu kelas empat, aku punya dua temen deket yang selalu bikin aku minder. Yang pertama Aya si imut dan Iva si pinter.

     Pas kelas empat anak-anaknya udah pada mulai main suka-sukaan.

     Temenku, si Aya, mukanya imut banget. kayak boneka, tapi bukan boneka jelangkung. Pokoknya boneka yang imut-imut gitu laah.
     Aya, selain imut, otaknya juga encer. Selalu dapet ranking di kelas.
     Aya juga kalau ngelawak kocak banget, walaupun dia ngelawak tanpa dia sadar, terus kalo ngelawak mukanya polos banget.
     Aya punya fans, cuma waktu itu fansnya belum menampakan diri. Fans rahasia gitu.

     Temenku yang satu lagi namanya Iva. Otaknya encer banget. Saking encernya, aku gak ngerasa perlu ngerjain PR, kan nanti bisa nyontek Iva~
     Iva waktu itu masih polos, jadi kalo kucontek dia bolehin.
     Menurut Iva, nilai 90 itu kurang. Makanya sering dapet nilai di atas 90. Rankingnya juga selalu 3 besar.
     Iva selalu inget cerita-cerita lucu yang pernah kita alamin, jadi kalau aku ngambek dia ceritain cerita lucu itu biar aku gak ngambek lagi.
     Iva juga cantik banget. Iva juga punya fans, tapi tidak menampakan diri. Fans rahasia.


Dan cerita ini dimulai sejak Aya menceritakan kalau dia habis chatting sama Fakuho.

"Eh, kemaren sore aku chatting sama Fakuho." kata Aya
"Terus kenapa?" tanya Iva
"Kata Fakuho, Lead suka sama Bunga, Fai suka sama Iva, terus Rei suka sama aku," kata Aya dengan nada suara menggantung.

Suasana hening sejenak

"Udahlah, ngapain kita pikirin, palingan cuma gossip." kata Iva menenangkan
"Iya juga, mungkin begitu." kataku
"Yaudah, kita main yuk!" kata Aya

Topik ini tidak bertahan sebentar pembaca, saat kenaikan kelas 5, kami terpisah. Aku dengan Iva sekelas, tapi Aya sendiri beda kelas.

"Yaah, kita beda kelas.." kataku lemas.
"Gapapalah Bung, nanti kita bisa main kok pas istirahat. lagian kelas kita kan sebelahan" kata Aya.
"Iya juga sih," kataku.


Pada suatu hari, Iva tiba-tiba berkata pelan.
"Eh, kayaknya yang Aya bilang pas kelas empat bener deh." kata Iva di kelas.
"Yang mana?" kataku lola.
"Yang dia bilang kalau Lead suka sama kamu, Rei suka sama Aya, Fai suka sama aku." kata Iva.
Aku yang sedang minum sedikit tersedak, "kamu tau darimana?"
"Coba deh, Lead, Rei, sama Fai tetep sering bareng kan walaupun mereka beda kelas. Kayak kita..." kata Iva.

Suasana hening sejenak..

"Yaudah, nanti kita ngobrol lagi deh sama Aya." kataku
"Yaudah" kata Iva singkat.
Lalu kami pun bermain


Pulang sekolah, kita bilang tentang hal ini ke Aya.
"Belum tentu bener kan?" kataku ragu-ragu.
"Kayaknya Iva bener deh, Bung. Lagian dia kan pinter kayak detektif, kita nurut ajalah sama perkiraannya." kata Aya sedikit bercanda.
"Nanti deh kita omongin lagi, aku udah dijemput nih. Daah!" kata Iva pamit
"Daah!" kataku dan Aya bersamaan


Singkat cerita, kita sudah yakin betul kalau mereka memang... ekhm... suka sama kita.
"Jangan-jangan di masjid mereka bareng juga lagi?" kata Iva berkomentar
Waktu itu anak kelas 5 sholat dzuhurnya di masjid
"Nanti kita liat yuk!" ajakku
"Sekalian ajak Aya, jangan lupa" Iva mengingatkan
"Iyalah" kataku

dan pas di masjid...
Jeng jeng jengg...
...
...
...

Mereka tetep bertiga
Aneh, padahal kelas mereka jauh-jauhan
Mereka juga nggak terlalu deket pas kelas 1-3
Jadi agak ganjil terlihat

"Tuh kan, mereka bertiga lagi.." kata Iva setelah kami melihat mereka duduk bersama di shaf keempat.
"Mungkin cuma kebetulan doang, mungkin gak setiap hari." kata Aya.
"Iya, besok kita liat aja lagi" kataku.

dan setelah kami melakukan pengamatan selama lebih dari tiga minggu untuk meyakinkan diri masing-masing, Ternyata...
Mereka selalu duduk bareng pas sholat dzuhur
dan kembali teringat kata-kata itu

Rei suka sama Aya~
Fai suka sama Iva~
Lead suka sama aku~

dan pernyataan di atas diperkuat dengan kalimat Fakuho
"Kan aku udah bilang pas chat sama Aya. aku denger sendiri mereka yang ngomong. nggak percayaan sih!" kata Fakuho saat kami chatting lagi sama dia

dan pengamatan setiap sholat dzuhur, untuk memastikan mereka memang suka duduk bertiga, menjadi kebiasaan.
Kami terpaksa harus datang seawal mungkin agar dapat tempat yang pas untuk "mengintip" mereka
tapi namanya kebiasaan, susah dihilangkan

"Kita kayak ngintipin cowok mandi..." komentarku pada suatu saat yang langsung ditertawakan Aya dan Iva.

dan lama-lama, kegiatan pengamatan kami disebut dengan "ngintipin cowok mandi" (padahal mereka nggak mandi -_-)

lama-lama mereka sadar kalau kami memperhatikan mereka setiap sholat dzuhur

dan sejak itu kami bermusuhan dengan mereka

kami menyebut mereka dengan sebutan MuLiSa
sedangkan kami menyebut komplotan kami dengan sebutan KoRoRa
jadilah KoRoRa vs MuLiSa



                                                                       THE END

- Bunga -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar